SUKA EO Dipercaya Kembali oleh BPIP Untuk Menyelenggarakan Acara Bedah Buku Dengan Judul Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan: Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan Pembudayan Semangat Persatuan melalui Kegiatan Bedah Buku Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan: Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D yang ditulis oleh Khoirul Anam, SHI., MSI. Acara ini diselenggarakan pada Jum’at, 21 Januari 2022 Pukul 13.00-16.30 di Gedung Prof. Soenarjo Lt.1 (Convention Hall UIN Sunan KalijagaYogyakarta).

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan dan membudayakan Salam Pancasila yang merupakan adopsi dari Salam Merdeka yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno untuk semangat persatuan bangsa dengan mengangkat lima jari di atas Pundak dengan lengan tegak lurus, sebagai simbol pengamalan lima sila dalam Pancasila yang merupakan tanggung jawab bersama seluruh bangsa Indonesia. Serta, memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. mengenai salam pancasila bisa dipahami dengan mudah oleh masyarakat secara luas, terutama tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadir pada kegiatan kali ini antara lain: Kepala BPIP, Prof. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Dr. Drs. Karjono, S.H., M.Hum Sekretaris Utama BPIP RI, Tri Purno Utomo SE., Ak. MH. Karo UmumBPIP, Sunoto Setyo, SE., M.Si Karo Faspimdep BPIP beserta jajaran, Hj. Luthvia Dewi Malik Ketua Pengurus Wilayah Muslimat NU DIY, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Phil Al Makin, S.Ag., M.A., UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Wakil Rektor Bidang 2 Dr. Phill. Sahiron,M.A. Beserta Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. dan Para Dekan, direktur & wakil direktur, serta Kaprodi & sekprodi, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Serta para tamu undangan.

Khoirul Anam selaku penulis menceritakan alasan dibalik penulisan buku ini dikarenakan banyaknya pemikiran menyimpang dan reaksi keras masyarakat mengenai salam pancasila yang dikatakan menggantikan salam keagamaan. Reaksi sangat keras karena kritik destruktif yang dibawa ke ranah politik dan menjadikannya panas, sehingga perlu adanya klarifikasi dengan penerbitan buku ini. Buku ini juga bisa dibilang menjadi sebuah klarifikasi kepada masyarakat luas mengenai salam pancasila.

Kepala BPIP Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. mengatakan bahwa salam ini adalah salam pemersatu bangsa dengan beragam agama dan suku. Ditegaskan juga bahwa salam Pancasila ini tidak menggantikan salam keagamaan masing-masing masyarakat. Justru salam ini menjadi titik temu antara suku bangsa dan agama, serta digunakan sebagai identitas salam bangsa Indonesia. Salam pancasila juga merupakan bentuk syukur kita sebagai warga negara yang merdeka. Sehingga salam pancasila dicetuskan supaya bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat Indonesia tanpa memandang suku, agama, bangsa, dan status sosial.

Dalam sambutannya Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Phil. Al Makin, M.A. mengatakan bahwa dalam kasus stigma miring masyarakat tentang pencetusan salam pancasila dari BPIP perlu sosialisasi dan penafsiran yang baik. Hal inilah yang dilakukan oleh pak Khoirul Anam dengan menerbitkan buku Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan. Buku yang ditulis secara lengkap dan terperinci, ditambah dengan penafsiran yang dapat dipahami oleh masyarakat luas dapat menjadi solusi atas reaksi keras masyarakat mengenai salam pancasila. Rektor UIN Sunan Kalijaga juga mengatakan bahwa reaksi keras masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya ketidaktahuan masyarakat dengan sejarah salam pancasila, makna dibalik salam pancasila, serta posisi salam pancasila. Yang semuanya dijelaskan melalui buku ini. Buku ini juga bisa dibilang menjadi sebuah klarifikasi kepada masyarakat luas mengenai salam pancasila.

Acara bedah buku ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya, yaitu Prof. Dr. H. Agus Moh. Najib, M. Ag. (Guru Besar Ilmu Ushul Fiqih FSH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta); Dr. Munawar Ahmad, S.S. M.Si. (Dosen Ushuluddin dan Pemikiran Islam); dan Syaiful Arif, MH (Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila). Mereka berbicara mengenai buku ini dengan perspektifnya masing-masing. Prof. Dr. H. Agus Moh. Najib, M. Ag. mengatakan bahwa Penggunaan “Assalamu’alaikum wr.wb” kepada Non muslim masih diperselisihkan oleh para ulama, maka yang paling aman dan sesuai dengan konteks Indonesia adalah penggunaan “Salam Pancasila” Ketika berada di ruang publik. Dr. Munawar Ahmad, S.S. M.Si. berpendapat bahwa seharusnya polemik mengenai salam pancasila ini dapat dihindari apabila masyarakat mengetahui posisi salam pancasila ini yang tidak menggantikan salam keagamaan karena berbeda. Padahal jika masyarakat memahami bahwa salam kebangsaan ini adalah salam anak bangsa jelas tidak perlu lagi berpolemik dengan salam agama. Ditegaskan juga bahwa Greeting/ salutation bukan berasal dari tradisi agama tetapi tabiat dasar mahluk hidup yang bersistem sosial.

Syaiful Arif, MH mengatakan berdasar kerangka berpikir Kepala BPIP RI Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. mengenai pancasila dan tauhid integratif. Salam Pancasila bukan merupakan strategi atau politik tapi merupakan salam diatas ideologi suku dan ras sesuai maqhosyid syariah.Menurut Syaiful Arifperlu pemahaman yang tinggi untuk memahami kerangka berpikir ini dengan mengintegrasikan 3 ayat yaitu alqur'an hadist, ayat-ayat insaniyah/kemanusiaan, ayat-ayat kauniyah/semesta(dunia). Bila pemahamamn kita tidak sampai tentu akan menimbulkan polemik seperti yang terjadi sebelumnya, oleh karena itu penting diadakan sosialisasi dan klarifikasi melalui acara bedah buku ini. Dari pembicaraan dengan narasumber tersebut, moderator Lia Fadlia, S.Ag. mencoba menegaskan sekali lagi bahwa salam pancasila tidak menggantikan salam keagamaan terutama “Assalamualaikum” yang digunakan oleh umat Islam. Diharapkan dengan hadirnya buku ini dapat meluruskan pemahaman masyarakat tentang salam pancasila dan menjawab semua isu miring yang beredar dimasyarakat. (MVR)