Dialog Kebangsaan BPIP Bertujuan Membangun Kesatuan, Kebinekaan dan Moderasi Beragama di Era Media Sosial

Yogyakarta, 30 Maret 2020 - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bekerjasama dengan SUKA EO Pusat Pengembangan Bisnis UIN Sunan Kalijaga, dan KOMPAS TV menyelenggarakan FGD Deklarasi Kebangsaan Pembangunan Narasi Kesatuan, Kebinekaan dan Moderasi Beragama antar Tokoh Agama se-Indonesia. Acara ini berlangsung di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo mulai dari pukul 09.00-21.00 WIB. Acara ini dimulai dari pembukaan, FGD Dialog Kebangsaan dengan tema Pandangan Tokoh Agama dan Tokoh Pendidikan terkait Pembangunan Narasi Kesatuan, Kebinekaan dan Moderasi Beragama dalam Bermedia Sosial. Dilanjutkan dengan Talk Show Penggunaan Media Sosial dalam Membangun Narasi Kesatuan, Kebinekaan dan Moderasi Beragama di Era Revolusi Industri 4.0. serta ditutup dengan Gala Dinner Ramah Tamah dan Promosi dari Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan.

FGD ini dihadiri oleh berbagai Organisasi Keagamaan Pemimpin Majlis Keagamaan tingkat nasional dari 6 Agama yang ada di Indonesia. Mulai dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), PP Muhammadiyah, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Tinggi Konghucu Indonesia (MATAKIN), Persatuan Umat Budha Indonesia (Permabudhi), Al Wasliyah, Al Khairaat, Persatuan Islam (PERSIS), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kanwil Kemenag D.I. Yogyakarta dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Serta Perwakilan dari Perguruan Tinggi Keagamaan di lingkungan KEMENAG dan PTN di lingkungan Kemendikbudristek dari beberapa wilayah di Indonesia. Mulai dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Atmajaya, Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, dan IAIN Fattahul Muluk Papua.

Tidak hanya Organisasi Keagamaan, hadir juga para influencer dan penggiat media sosial yang juga ikut dalam FGD Dialog kebangsaan, seperti Sakdiyah Makruf, Rosa Akhirunnisa, Jiroluger, Zie, Gusdurian, Setara Institut, dan Maarif Institut.

Dalam Welcoming Speech Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A. mengatakan FGD ini didasari oleh kajian UIN SUKA selama bertahun-tahun tentang hubungan persahabatan antara umat beragama maupun internal beragama. Dalam banyak kajian dari Aceh sampai Papua, ditemukan bahwa persahabatan di kalangan remaja, anak, dan para mahasiwa umumnya didadasari atas kesamaan iman, kedaerahan, dan aliran. Jarang sekali persahabatan didasari lintas organisasi dan lintas iman.

Prof. Al Makin mengatakan bahwa ukuran moderasi beragama itu sederhana. Yakni, seberapa banyak teman kita yang tidak berbahasa sama dengan kita, tidak berorganisasi sama dengan kita, dan tidak sama cara beribadahnya. Maka mari kita tingkatkan persahabatan, kita sosialisasikan di masyarakat dan medsos, bahwa kita semua bersahabat, berkawan, dan bersaudara. Saya kira ini sangat diperlukan dalam konteks ke-Indonesiaan yang sangat kaya.

Akar jati diri ke-Indonesiaan itu memiliki empat hal yakni keadilan, moderasi, kebajikan, dan persahabatan. Menurut Prof Al Makin, kembali ke akar jati diri bangsa Indonesia itu sebenarnya sudah dilakukan oleh para pendiri bangsa. Misalnya, Sukarno, Hatta, H Agus Salim, M Yamin, hingga Sutan Sjahrir, sudah mempelajari jati diri bangsa Indonesia sebelum proklamasi. M Yamin misalnya, sangat senang mengutip kitab Sutasoma, menggali sejarah Majapahit. Karena itu, Prof. Al Makin mengapresiasi langkah BPIP dalam menjaga dan mengawal nilai-nilai Pancasila. Selain itu, BPIP terus menggali nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala BPIP RI, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D berharap deklarasi ini mampu menjadi pelecut bagi BPIP untuk lebih aktif dalam membangun dan mensosialisasikan narasi persatuan dan Kebangsaan melalui berbagai platform salah satunya adalah media sosial dengan melibatkan berbagai pihak, utamanya kaum millenial.

Harapannya deklarasi ini sebagai titik awal lanjutan, dari sini kita mengharapkan ada pemahaman kesadaran pada semua pihak untuk mewujudkan apa yg menjadi kesepakatan hari ini yang akan kita tindak lanjuti. Mudah-mudahan kami juga bisa membuat deklarasi yang lebih besar lagi dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang lebih luas terutama dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2022. Kami juga akan terus mendorong keterwujudan hal ini, terutama dengan disahkannya PP No. 4 tahun 2022, yang mana Pancasila smenjadi mata pelajaran khusus dan kewarganegaraan menjadi bagian dari Pancasila.

Prof. Yudian menambahkan media sosial sebagai platform penting yang harus disasar. Salah satu alasannya adalah keterjangkauannya yang luas yang mampu membentuk opini komunal dan bisa diakses kapanpun serta dimanapun, sehingga sosialisasi tersebut harus maksimal dan harus melibatkan banyak pihak.

Media sosial menjadi platform penting dalam mengenalkan mata pelajaran Pancasila kepada siswa dan mahasiswa kita. Dalam mata pelajaran Pancasila 30% materi bersifat teoritis dan 70% materi lebih bersifat menggali Pancasila pada kehidupan masyarakat melalui tradisi dan kebudayaan", terangnya.

Dalam FGD Dialog Kebangsaan Penggunaan Media Sosial dalam Membangun Moderasi Beragama di Era Revolusi Industri 4.0 berjalan dengan sangat baik. FGD ini dimoderatori oleh KH. Luqman Hakim Saifuddin (Menteri Agama Periode 2014-2019) sang penggagas moderasi beragama di Indonesia. Dari FGD ini memunculkan 14 sikap etika dalam bermedia sosial yang disepakati Bersama dan dideklarasikan oleh seluruh peserta yang hadir. (AFR)