Bedah Buku Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma’?

Bedah Buku Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan kegiatan implementasi nilai-nilai Pancasila melalui Kegiatan Bedah Buku Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma yang ditulis oleh Khoirul Anam, SHI., MSI. Acara ini diselenggarakan pada hari MInggu, 17 April 2022 Pukul 15.30-17.45 di Gedung Prof. Soenarjo (Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Lantai 1 dengan tema “Internalisasi Nilai-nilai Pancasila melalui Bedah Buku Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma?”.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai Ideologi Pancasila melalui konsep gagasan pembaruan Islam. Serta, memahami pemikiran-pemikiran spesifik dan implementatif dari gagasan besar dan orisinal Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi MA., Ph.D tentang mem-“Pancasila”-kan Al-Asma’?.
Hadir pada kegiatan kali ini antara lain: Kepala BPIP, Prof. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Sekretaris Utama BPIP RI Dr. Drs. Karjono, S.H., M.Hum, beserta jajaran. Serta Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Phil Al Makin, S.Ag., M.A., UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Wakil Rektor Bidang III (Bidang Kemahasiswaan dan Kerja-sama) Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si. , Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. dan Para Dekan, direktur & wakil direktur, serta tamu undangan dari berbagai organisasi mahasiswa dan organisasi sosial kemasyarakatan.
Dalam sambutannya Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi memaparkan, di Indonesia hanya Al–Asma’ yang pancasilais selalu menang, dan dapat memegang tampuk pemerintahan. Hanya Al–Asma’ yang pancasilais dapat diterima Bangsa Indonesia. Al-Asma’ yang dimaksud Prof. Yudian, dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai sebagai nama-nama, tetapi bukan nama biologis. Dalam pengakuan akademik disebut gelar, sedangkan dalam dunia professional disebut sebagai keahlian dalam bidang tertentu.
Umat muslim harus dapat meraih Al-Asma’ itu agar dapat berperan menjadi para pemimpin bangsa dalam semua bidang. Melalui tekun belajar meraih gelar keilmuan yang profesional dan konstitusional, dan memenuhi syarat administrasi dalam bingkai negara Pancasila. Ilmuwan muslim di Indonesia agar menjadi hebat, menurut Prof. Yudian harus menguatkan pemahaman tentang makna Pancasila. Jangan tanggung-tanggung mengabdi pada Pancasila, jadi beribadahlah kepada Allah SWT melalui Pancasila. Maka marilah umat Muslim di Indonesia, melalui Iqro’ yang diperintahkan Allah SWT, tekunlah belajar, dan kuasai keilmuan bidang apa pun. Raihlah Al-Asma’ atau gelar keilmuan dalam bingkai Pancasila, agar dapat beribadah dengan nyaman, amanah, meraih ketakwaan kepada Allah SWT melalui negara Pancasila.
Acara bedah buku ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya, yaitu Prof. Dr. H. Agus Moh. Najib, M. Ag. (Direktur Analisis dan Penyelarasan BPIP RI); Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. (Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta); dan Khoirul Anam, SHI., MSI. (Penulis Buku Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma?).
Direktur Analisis dan Penyelarasan BPIP RI Prof. Dr. H. Agus Moh. Najib, M. Ag. mengatakan bahwa Prof. Yudian punya landasan teori yang kuat. Seperti mendefinisikan Islam sebagai proses mencari keamanan dan keselamatan dunia dan akhirat. Teori yang digunakan untuk meraihnya melalui teologis, alamiah, dan sosial. Setelah landasan teori, ada metodologi yang digunakan yaitu maqosid syari’ah, sehingga bias diaktualisasikan dalam segala bidang kehidupan. Prof. Yudian mendorong agar masyarakat tekun belajar menguasai keilmuan dan berbuat untuk kemaslahatan manusia dan lingkungan.
Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Siswanto, menyampaikan bahwa Prof. Yudian Wahyudi adalah teladan. Beliau menilai Kepala BPIP RI itu sebagai pembaharu, dan pemikirannya selalu diimplementasikan. Sebagai pembaharu, Prof. Yudian itu melihat yang dulu, sekarang, dan akan datang. Selain itu, beliau memiliki sifat yang jujur, bisa dipercaya, tabligh, dan cerdas. Pemikirannya selalu diimplementasikan danberupaya mendekatkan muslim dengan negara dan pemerintahan,” ungakapnya.
Sementara itu, selaku Penulis Khoirul Anam mengatakan umat muslim banyak yang terjebak dalam pemahaman nilai-nilai Islam tekstual semata. Akibatnya, mereka kehilangan rasa kasih sayang dan kemanusiaan, dan justru menjadi radikal. Karena itu, Prof. Yudian berupaya melakukan pembaharuan pemahaman agama yang lebih kontekstual dan manusiawi, melalui pendekatan yang tidak parsial. Bahwa Islam tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga menjaga hubungan dengan alam dan sesama manusia. Inilah yang diperjuangan Prof. Yudian Wahyudi. Beliau tidak hanya berpikir, namun juga berbuat, dan memberi tauladan kesederhanaan, kasih sayang dan merakyat. Prof. Yudian juga konsisten melakukan kaderisasi/pembibitan baik secara kelembagaan sebagai pejabat maupun secara pribadi.
Sementara itu, Dr. Karjono menambahkan terkait tentang kurikulum Pancasila yang akan segera diimplementasikan sebagai mata pelajaran wajib dari PAUD sampai Perguruan Tinggi pada Juli 2022 mendatang. Menurutnya, Badan BPIP RI meminta penyampaian materi mata pelajaran Pancasila yang sudah diwajibkan pada tahun ajaran depan tidak disampaikan dengan cara-cara sulit. Dijelaskan, sebagai pendukung kurikulum Merdeka Belajar, mata pelajaran Pancasila tidak akan disampaikan dengan cara-cara sulit.
Intruksi Presiden Joko Widodo, penyampaiannya harus mudah dan tidak terkesan doktrinisasi. Lebih banyak menerapkan praktik. Menjadi mata pelajaran wajib, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 4 tahun 2022, Pancasila akan disesuaikan dengan gaya hidup generasi millenial saat ini. Dr. Karjono menerangkan, BPIP telah menyediakan 15 buku ajar Pancasila yang nantinya diterapkan mulai PAUD sampai Perguruan Tinggi. Direncanakan pelucuran pada awal Juni dan diterapkan awal Juli. Penerapannya lebih banyak praktek (70 persen) dan sisanya teori.
Kegiatan bedah buku ini dipublikasikan melalui Televisi dan media massa (seperti RBTV, RRI Yogyakarta, impessa, onlinesleman, koran-jogja.com, smol.id, Gatra, koranbernas.id, Republika, Antara News, RM.id, koran-jogja, eduwara, serikatnews, tunggal.co, wiradesa, dsb) serta website dan media sosial dari BPIP RI, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pusat Pengembangan Bisnis UIN Sunan Kalijaga dan para mitra kerja lainnya. (AFR)