Meriahnya Acara BPIP Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Festival Ide Kebangsaan yang dilaksanakan oleh SUKA EO di Gedung Prof. Soenarjo UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan acara Bedah Buku, Webinar dan pengumuman juara Lomba Resensi Buku, Lomba Infografis, dan Lomba Presentasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 15-16 Desember 2021 Pukul 09.00 – 12.00 WIB di Gedung Prof. Dr. Soenarjo (Convention Hall) Lt.1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini memiliki tema “Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Festival Ide Kebangsaan”. Kegiatan ini berbentuk Kompetisi Penulisan Artikel, Webinar Peringatan Hari Pahlawan, Lomba Resensi Buku, Lomba Infografis, Lomba Presentasi, dan Bedah Buku.
Hadir pada kegiatan kali ini antara lain: Kepala BPIP, Prof. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., beserta jajarannya, Wakil dari dari Dr. H. MAsmin Afif, M.Ag. Kepala Kanwil Kemenag DIY, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Phil Al Makin, S.Ag., M.A., UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Wakil Rektor Bidang 2 Dr. Phill. Sahiron, M.A. Beserta Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. dan Para Dekan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Serta para tamu undangan dan para pemenang dari lomba-lomba yang diadakan oleh BPIP.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan ide-ide kreatif, inovatif untuk mewujudkan Indonesia maju berbasis sumberdaya manusia unggul. Memperkuat nilai-nilai luhur Pancasila dalam menangkal isu-isu ekstrimisme dan radikalisme. Serta Internalisasi Nilai-Nilai Ideologi Pancasila melalui konsep gagasan pembaruan Islam.Salah satu indikator kesuksesan acara ini adalah animo masyarakat cukup tinggi, untuk mengikuti Kompetisi Penulisan Artikel ada 481 karya tulis, Lomba Resensi Buku ada 104 karya, 33 Karya Infografis, dan 16 peserta Lomba Presentasi. Acara puncak ditutup dengan bedah buku dan webinar hari pahlawan dengan tema penguatan nilai-nilai luhur Pancasila dalam menangkal isu-isu ekstrimisme dan radikalisme.

Adapun Penutupan dan penyerahan piala dan hadiah pada kegiatan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Festival Ide Kebangsaan berlangsung dengan meriah dan sesuai protocol kesehatan COVID-19. Kepala BPIP Prof. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan para pendahulu pemikiran Islam Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Hazairin mengkritisi pendekatan teori receptie yang didesain oleh kepentingan kolonial untuk mencegah munculnya kekuatan Islam. Hasbi Assiddiqi berperan penting dalam memperkenalkan fikih Indonesia yang terbuka pada kebudayaan lokal (‘urf) sebagai sumber hukum. Nurcholis Majid menawarkan sekularisasi pemikiran. Memperkuat pemikiran keislaman, Yudian menggabungkan kelebihan-kelebihan pemikir sebelumnya dengan keunggulannya memberikan penafsiran ayat Al-Quran kontemporer yang aplikatif dan adaptif terhadap kebutuhan jaman.
Dr. Phill. Sahiron, M.A. Wakil Rektor Bidang Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan sekaligus Ketua Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir (AIAT) Indonesia, dalam sambutannya menyatakan pemikiran Prof Yudian memberi kontribusi yang sangat signifikan dalam penafsiran hukum Islam di Indonesia. Pendapat ini dibenarkan oleh sejumlah penulis yang menyebut Prof. Yudian sebagai mujtahid. Hampir 30 persen penulis resensi mengambil judul yang menyebut Prof. Yudian sebagai mujtahid. Padahal mereka menulis secara organik dan tidak ada panduan.
Sebagai narasumber pertama dalam acara bedah buku, Prof. Dr. H. Agus Moh Najib selaku Guru Besar Ilmu Ushul Fiqh menemukan pemikiran Prof. Yudian bahwa kemajuan peradaban hanya bisa dicapai dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disebut juga dengan experimental sciences. Siapa pun yang paling menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan menjadi masyarakat yang maju bahkan akan memimpin dunia dengan kemajuan peradabannya. Dengan penafsiran-penafsiran orisinalnya dan tawaran solusi bagi kemajuan peradaban Islam. Beliau merupakan seorang pembaru di dunia Islam kontemporer. Bahkan, beliau berupaya mengimplementasikan pemikiran pembaruannya dalam gerakan lembaga pendidikan (Pesantren Nawesea, Sekolah Sunan Averroes) dan tarekat (Tarekat Sunan Anbia; dengan shalat Hajat dan Majelis Ayat Kursinya). Lembaga pendidikan yang mengintegrasikan antara fisika-metafisika dan sekolah-pesantren, dan tarekat yang tidak saja mementingkan kehidupan akhirat tetapi juga mementingkan kemajuan peradaban dunia. Pemikiran pembaruan Yudian ini orisinil, konstekstual, aplikatif dan eksentrik karena berbeda dengan tokoh pembaru lainnya.

Selaku Narasumber kedua, Khoirul Anam, SHI., MSI., Selaku Editor Buku dan Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga mengatakan di era disrupsi umat Islam saat ini membutuhkan pembaruan pemikiran cerdas-progresif bahkan revolusioner dengan masih tetap dalam bingkai nilai-nilai syari’at. Sebab, umat Islam banyak yang terkungkung dalam ortodoksi dan kultus terhadap fiqih, padahal fiqih bersifat relatif, dinamis dan fleksibel. Dengan pemikiran-pemikirannya, Prof. Yudian seringkali dianggap sebagai tokoh kontroversial karena sering mengeluarkan pemikiran-pemikiran progresif. Banyak orang yang belum mengenal konsep pembaruan Islam Prof. Yudian secara komprehensif sehingga sering salah paham. untuk pembaruan di bidang tafsir mengembangkan tafsir simbolik-kontekstual, bersifat aplikatif, fungsional dan menjamin kemaslahatan, misalnya menafsirkan kata khalifah dan surah al-duha. Lalu,memperkenalkan muslim kaffah adalah mereka yang mengimani tiga ayat yang saling berkaitan dan bersifat integral agar selamat di dunia dan akhirat, yaitu ayat quraniyah atau qauliyah, kauniah, insaniah. (AFR)